Jejak Penemuan Fosil Manusia Purba di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara tempat di temukannya manusia purba. Penemuan itu dapat dilakukan berdasarkan fosil-fosil yang telah ditemukan. Fosil adalah tulang belulang, baik itu tulang belulang manusia maupun binatang yang hidup pada zaman purba, yakni jutaan tahun tahun yang lalu. Manusia purba yang ditemukan di Indonesia memiliki usia yang sudah tua, bahkan hampir menyamai manusia purba yang ditemukan di negara-negara lainnya.

Dr. Eugene Du Bois, ahli anatomi dari Amsterdam, adalah orang yang pertama kali melakukan penelitian manusia purba di Indonesia. Awalnya, ia melakukan penelitian di gua-gua di Sumatera Barat, tapi dalam penyelidikan itu ia tidak menemukan kerangka manusia. Kemudian ia mengalihkan penelitiannya di pulau Jawa. Pada tahun 1891, ditemukan fosil manusia yang kemudia diberi nama Pithecanthropus Erectus (kera-manusia yang dapat berdiri tegak). Fosil ini ditemukan di dekat Trinil, sebuah desa di pinggiran bengawan Solo. Manusia Trinil ini diperkirakan hidup antara 429.000 tahun sampai 236.000 tahun yang lalu. Fosil ini jauh lebih tua daripada manusia Neandertal yang di temukan di Jerman pada tahun 1856. Isi otaknya antara 775 sampai 935 cm3. Kepalanya lebih luas daripada kepala kera besar, akan tetapi jauh lebih kecil daripada otak manusia, gigi-giginya menunjukkan sifat manusia, dan besar pahanya sama dengan paha manusia modern.

Penemuan fosil manusia purba yang yang telah dilakukan Du Bois akhirnya mendorong penemuan-penemuan berikutnya. Antara tahun 1931 dan 1933 seorang ahli geologi Jerman bernama G.H.R. von Koenigswald menemukan 14 fosil Pithecanthropus yang terdiri dari 12 tengkorak dan 2 tibia, di dekat desa Ngandong, juga di lembah Bengawan Solo, di sebelah utara Trinil. Mula-mula fosil-fosil ini terkenal dengan nama Homo Soloensis, namun, seorang ahli paleoantropologi dari Universitas Gajah Mada yang telah meneliti ke-14 fosil tersebut secara mendalam sekali, member sebutan Pithecanthropus Soloensis.

Penelitian pun terus dilakukan. Di tahun 1936, G.H.R. von Koenigswald menemukan fosil tengkorak anak-anak di dekat Mojokerto. Dari gigi tengkorak tersebut, diperkirakan usia anak tersebut belum melebihi 5 tahun. Kemungkinan tengkorak tersebut merupakan tengkorak anak dari Pithecanthropus Erectus, tetapi von Koenigswald menyebutnya Homo Mojokertensis. Masih di tahun yang sama, von Koenigswald menggali di Sangiran, juga dekat Solo dan berhasil menemukan fosil dari kepala tengkorak yang lengkap. Manusia itu disebut Pithecanthropus II, hidup 700.000 tahun yang lalu. Isi otak 750cm. Kemudian, di tahun 1939 von Koenigswald menemukan rahang sebelah atas dan bagian belakang tempurung otak yang disebut Pitecanthopus IV. Semua fosil ini mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu dahi rendah, miring mundur, lengkungan besar di atas mata, mulut yang menonjol, dan tidak ada dagu. Sering kali diragukan apakah makhluk semacam itu merupakan manusia. Namun, keadaan gigi sama sekali manusiawi, tidak ada gigi taring yang menonjol seperti pada kera.

 

pencarian fosil

Pencarian Fosil

 

Antara 1939-1941, di Sangiran, Koenigswald menemukan fosil yang disebutnya Meganthropus paleojavanicus yang lazim juga disebut “Raksasa Jawa”. Tubuhnya lebih besar daripada manusia Trinil, Ngandong, dan Sangiran. Mulutnya mirip sekali kera primat (kera yang paling menyerupai manusia seperti simpanse, gibbon, orangutan, gorilla). Manusia ini diperkirakan hidup 2 juta sampai 1 juta tahun tayng lalu.

Pada tahun 1899 ditemukan sebuah tengkorak di dekat Wajak sebuah desa yang tak jauh dari Tulungagung, Kediri. Tengkorak ini ini disebut Homo Wajakensis. Jenis manusia purba ini tinggi tubuhnya antara 130 – 210 cm, dengan berat badan kira-kira 30 – 150 kg. Mukanya lebar dengan hidung yang masih lebar, mulutnya masih menonjol. Dahinya masih menonjol, walaupun tidak seperti Pithecanthropus. Menurut Du Bois, Homo Wajakensis termasuk dalam golongan bangsa Australoide, bernenek moyang Homo Soloensis dan nantinya menurunkan bangsa-bangsa asli di Australia.

Setelah masa penjajahan Belanda selesai, penelitian manusia purba dilanjutkan oleh orang Indonesia sendiri. Pada tahun 1952 penelitian dimulai. Penelitian ini terutama dilakukan oleh dokter dan geolog yang kebetulan harus meneliti lapisan-lapisan tanah. Seorang dokter dari UGM yang mengkhususkan dirinya pada penyelidikan tersebut adalah Prof. Dr. Teuku Jacob. Dia memulai penyelidikannya di daerah Sangiran. Penelitian ini kemudian meluas ke Bengawan Solo. Hingga saat ini, sudah banyak temuan-temuan yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia sendiri dan turut berpartisipasi memperkaya khazanah ilmu pengetahuan manusia seantero dunia.(BOE)

Daftar Pustaka :

Bellwood, Pater. 1997. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Terjemahan : T.W. Kamil. 2000. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Dahler, Franz dan Budianta, Eka. 2004. Pijar Peradaban Manusia : Denyut Harapan Evolusi. Yogyakarta : Kanisius.

Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.

1 Komentar

Filed under PRE-HISTORY

One response to “Jejak Penemuan Fosil Manusia Purba di Indonesia

  1. fremaldin

    boe ijin buat naikin artikel mu boleh ga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s